1 year ago | by Administrator

Event Sneaker : Battle of The Fittest

  • 6558 views
  • 0 comments

Akhir-akhir ini pas menjelang diadakannya event sneakers di Jakarta gw suka ditanyain sama temen / keluarga : “eh mas, event di nganu ente yang buat? Ada apa aja?” selalu deh. Pertanyaannya selalu sama, apakah ada keterlibatan IST di event yang bersangkutan (biar bisa dapat sneakers harga teman) dan sneakers apa saja yang ditawarkan. Lalu beberapa bulan belakangan, pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul hampir tiap minggu.

 

Sejak suksesnya event sneakers awal seperti Sneaker Garage, Golden Size, SoleFest, dan memuncak di Jakarta Sneaker Day (gpp ya nyebut merk), kini hampir tiap minggu selalu ada event sneaker (paling tidak dalam radius Jabodetabek). Nama eventnya klo ngga Sole ya Sneakers. Semuanya sama menjual hype dan keglamoran pergaulan anak muda ibukota. Kami ngga pernah kebayang bakal ada event yang vibe nya seenak Brightspot Market, mengokupasi satu venue dan menawarkan hanya satu jenis barang: sneakers. Mimpi jorok iya.

 

Cerita berlanjut ke SoleFest, ketika kita (baca: IST) diajakin partnership untuk bantu promo dan buka booth legit check. SoleFest pertama pun sebenarnya ngga bisa dibilang besar, namun skena sneakers secara garis besar terwakilkan. Dari sini, entah kesambet setan apa, sneakers event ngebut, booming di JSD (yang menurut gw di luar dugaan) sampai sekarang menjamur, hampir tiap mall punya event sneaker signature-nya masing-masing.

 

Seneng? Iya. Dateng ga? Belum tentu.

Istri gw pas ada event sneaker suka nanya mau ke sana atau ngga? Biasanya klo ada tiket masuk gw males. Bukan karena gw mau gratisan doang (siapa sih yg ngga?), tapi ide membayar Rp50.000-70.000, untuk melihat sneakers yang gw bisa lihat dari layar handphone plus belum tentu kebeli juga agak ngga make sense buat gw. Mending gw ke PRJ beli ciki cebanan. Jelas dan kenyang, ngga kebawa mimpi.

 

Bermodal pengalaman gw yang lumayan lama bekerja di industri exhibition, gw pernah coba iseng-iseng menghitung andaikata IST membuat event sneakernya sendiri, ternyata biayanya ngga kecil. Inget loh skena sneakers di Indonesia tuh masih niche banget, menentukan venue aja sudah menjadi tantangan tersendiri, apalagi klo modalnya cuma dengkul sama bacot. Terus? Kenapa malah banyak event sneaker?

 

Pernyataan gw mungkin akan agak judgemental karena gw ngga tahu dapur event sneaker masing-masing. Tapi, berdasarkan hemat gw, saat ini banyak event sneaker sepertinya ya karena uang/cuan/laba. Whatever you wanna call it. Aji mumpung, mumpung lagi in. Tipikal Indonesia banget deh, kaya demam apa tuh, gasing tangan yg ngga ada gunanya.

 

Dulu IST sering ditawari venue gratis di mall untuk bikin event, biasanya mall yang struggling, yang traffic pengunjungnya stabil di angka nyaris sepi. Emang mungkin kami nyalinya kurang, ngga pernah kami iyain. Tapi kalau mau bikin event dan butuh bantuan boosting via sosmed pasti kami bantu. Idealnya begini memang, co-exist, ngga karena satu mall bikin event sneakers, terus semua mall jadi latah. Atau mungkin ada salahnya juga kami ngga menjadikan uang sebagai tujuan utama. Jadi ngga mau gambling memutar uang investor untuk dibuat event. Kalo sepi gimana? Kalo rugi gimana? Mental tempe? Sepertinya begitu. Emang banyak orang-orang hebat ya di luar sana, yang berani ambil resiko.

 

Gw sebenernya juga kepikiran sisi negatif dari banyaknya event sneaker sekarang ini. Pertama akan terjadi yang namanya persaingan. Elemen satu ini sebenarnya pedang bermata dua: co-exist memang lebih bagus, tapi adanya persaingan juga akan membuat penyelenggara untuk muter otak memperbaiki konten dan acara mereka masing-masing. Namun, skena sneakers Tanah Air ini baru seumur jagung. Walau sekarang pebisnis sneakers menjamur, tapi ngga semuanya punya kemampuan finansial untuk go offline. Efeknya akan terjadi Battle of The Fittest. Yang menang antara konsep/konten bagus, koneksi kalcer, atau modal ngga terbatas, we’ll see. Ketakutan gw yang kedua adalah terjadinya kejenuhan. Yang datang jenuh, event senada di mana mana, yang dijual sama. Crowdnya sama: anak muda stunting yang berpakaian layaknya orang flu berat, jaket/hoodie plus masker (kalo flu di rumah aja Mas. Istirahat, jangan keluyuran). Seller juga jenuh, event di mana-mana dengan formula yang sama: jualan + pamer + DJ + undian. Ujungnya event sneaker bakal ditinggalin kaya tisu abis buang ingus (atau cairan lainnya).

 

“Udahlah Mas, jangan jadi nyinyir… Mungkin emang skena dan eventnya aja sedang fase mencari bentuk.”

 

Oh iya, ada betulnya memang. Tapi gini kita ambil contoh case yang terjadi di industri yang dulu gw geluti. Dulu, di Jakarta tiap tahunnya ada 3 event pameran IT skala nasional (6 klo dihitung sub-industrinya, karena biasanya dalam 1 tanggal ada 2 event barengan). Event-event ini udah establish bahkan sebelum gw mulai bekerja. Tahun 2010, sudah ada sinyal klo marketnya sudah mulai jenuh, seller masih berkutat di jualan PC dan laptop. Mall-mall juga ikut membuat event skala dan versi mereka sendiri. IT center mulai tumbuh, orang ngga lagi hanya tau mangga dua. Jelas banget persaingan dimana-mana, konsep sama, target crowdnya pun sama. Clear banget klo industrinya bakal declining. Sebagai orang yang mencari rejeki di organizing pameran,  sudah semestinya dibuat rencana antisipasi untuk beberapa tahun ke depan. Semua ini gw tuangkan dalam sebuah laporan yang entah kenapa ngga sampai ke telinga direksi.

 

Apa yang terjadi? sekitar tahun 2012 penurunannya sangat terasa. Jualan susah, nyari sponsor susah, space pameran menyusut. 7 Tahun kemudian, dari 3 nama pameran yang dulu besar cuma 1 pameran yang survive, itupun tidak se jaya dahulu.

 

Dude, simple aja: kalo event belasan tahun aja bisa blas hilang begitu aja karena supply over demand, apa kabar kita?

VIEW COMMENTS

Related Articles