1 year ago | by Administrator

IST The Very Best of 2016 Part 3

  • 3073 views
  • 0 comments

~ sambungan dari Part 2

 

Look at Me, I’m an Outdoor Savvy

Nike Presto Mid x acronym

*image from nicekicks

 

Comeback nya Nike Presto tahun ini diterima dengan sangat baik (nostalgia tampaknya menjadi salah satu tema besar Nike tahun ini). Nike Presto dikenal sebagai salah satu siluet Nike ternyaman untuk digunakan harian, namun sangat jarang dijadikan siluet rilisan kolaborasi.

 

Di lain pihak, Acronym dikenal sebagai brand outdoor equipment yang technical dan hi end. Jika kamu tidak terlalu familiar, tenang saja. Saya juga mengenal Acronym sebagai brand yang terkenal memasang resleting di Nike AF1.

 

Namun estetika Acronym benar-benar diterjemahkan dengan baik (terutama di colorway volt/pink. Konstruksi mid-cut dengan inner socks yang nyaman digunakan di udara dingin dan tentu saja : resleting (untuk pemasangan instant)

 

 


 

Indigo Enthusiasts’s Wet Dream

Vans x FDMTL 10th Anniversary

*image from highsnobiety

 

Vans tahun ini penuh dengan kolaborasi, mulai dari Star Wars, Disney hingga Toy Story, namun entah kenapa selalu ada yang kurang di setiap rilisan tersebut. Seakan kolaborasi yang dipaksakan atau hanya jadi komplemen rilisnya film baru atau rilisan yang timingnya tidak relevan.

 

FDTML (Fundamental Agreement Luxury) dikenal sebagai produsen garmen denim asal Jepang ternama di dunia, FDMTL dikenal atas denim yang dibuat menggunakan proses tradisional Jepang. Pada dasarnya arguably they’re the best at what they’re doing.

 

Penggunaan denim di sneaker agak tricky, jika aplikasi atau jenis denim yang digunakan kurang pas akan overkill. Titik berat penggunaan materi denim terletak pada detail. Hal ini juga yang menjadi nilai jual terutama dari FDMTL x Vans ini, craftmanship yang mumpuni dari FDMTL mampu menerapkan pola dan faded yang berbeda-beda di tiap siluet. Menurut saya seri ini akan bertambah seksi seiring dengan bertambahnya  umur dan frekuensi penggunaan.

 

 


 

 

GOAT (Greatest Of All Time)

Ronnie Fieg

*image from kicksonfire.com

why : he really cemented his legacy this year

 

Satu kalimat cukup menjelaskan kenapa Ronnie FIeg is the GOAT :

Kreator mana lagi yang karyanya direfleksikan ulang dan di homage oleh dirinya sendiri, karena ngga ada orang lain yang pantas melakukannya?

 

Dari kolaborasi dengan BAPE dengan Bapesta,  re-release AF1 Linen hingga kolaborasi dengan Coca Cola, semuanya ciamik.

 

 


 

 

Things Went Extinct

#anaklama

why : the maturing guys start wearing basic GR stuffs and getting off the grid.

 

Sejalan dengan berjalannya 2016 saya mulai menyadari sesuatu, rotasi sneakers saya menjadi pairs yang itu-itu aja. Gaya belanja saya juga ikut berubah, saya hanya menjadi tertarik terhadap sneakers dengan ciri yang spesifik : colorway black/white dan bermateri non-suede (jauh-jauh deh dari sepatu suede). Saya jadi kurang tertarik terhadap rilisan-rilisan kolaborasi dan memilih membeli rilisan GR yang harganya tidak seberapa, semisal Converse Chuck Taylor 1970s, Vans Authentic atau Adidas Superstar Foundation yang lagi rame.

 

Perubahan ini ternyata tidak hanya terjadi di diri saya, ketika saya nongkrong dengan teman-teman IST lainnya juga banyak yang lebih sering mem beat sepatu macam saya. Anak-anak yang tadinya getol pake nike SB skrg lebih sering memakai Vans SK8r. Yang tadinya maniak New Balance sekarang sukanya pakai Converse CT, malah di stok beberapa persiapan kalau-kalau yang di pake jebol, atau kayak saya nyarinya AF1 dan Dunk SB rilisan lama. 

 

Anak-anak ini juga makin jarang sharing PAHI atau on feet, pick up terbaru dll. Kalaupun iya biasanya hanya sesekali dan itupun sepatu lama atau dalam konteks dijual, Beda banget dengan jaman dulu yang seneng showing off collection atau sekedar mengatur sepatu dengan bentuk SA.

 

Ada sesuatu yang terjadi di sini.

 

Entahlah, mungkin sibuk hidup di dunia nyata dengan pekerjaan, keluarga, anak, siap-siap menikah, ngepet lagi sepi. Atau mungkin kami muak melihat sepatu GR yang kini di bandrol berlipat-lipat kali dibanding harga sebelum brand tersebut ngetrend. Mungkin kami kangen masa-masa sharing di forum kaskus. Bisa jadi kami rindu masa-masa bisa membeli sneakers collab no box dengan harga di bawah sejuta, antri beli sepatu tanpa harus beli produk senilai ratusan ribu.

 

Semua orang happy, beli sepatu tanpa drama.

VIEW COMMENTS

Related Articles